Luwu, Porostengah.id – Industri pengolahan nikel nasional kembali mencatat capaian penting. PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) sukses melaksanakan tapping perdana pada tungku kedua pabriknya, menandai dimulainya produksi ferronikel secara resmi.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Minggu, 29 Maret 2026 sekitar pukul 06.45 WITA. Momentum ini menjadi tonggak krusial dalam rangkaian proses komisioning Pabrik 2 yang kini mulai memasuki fase operasional.
Keberhasilan tapping ini menegaskan kesiapan fasilitas peleburan logam untuk beroperasi lebih optimal. Pihak perusahaan menyebut, tahap ini merupakan fondasi penting sebelum masuk ke proses lanjutan pada sektor pemurnian.
External Affairs BMS, Didit, menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan langkah strategis dalam mendukung hilirisasi industri nikel di Indonesia. Setelah tahap peleburan, perusahaan menargetkan produksi nickel matte sebagai bagian dari penguatan rantai industri berbasis mineral.
“Ke depan, kami menargetkan masuk ke tahap pemurnian logam dengan output nickel matte pada pertengahan tahun ini,” ujarnya.
Selain berdampak pada sektor industri, operasional smelter BMS juga membawa efek ekonomi bagi masyarakat lokal. Tercatat sekitar 85 persen tenaga kerja yang terlibat berasal dari wilayah Luwu, menunjukkan komitmen perusahaan dalam pemberdayaan tenaga kerja daerah.
Mengusung semangat “Smelter Anak Bangsa”, proyek ini diharapkan mampu menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam industri nikel global.
Ke depan, keberlanjutan operasional Pabrik 2 BMS tidak hanya menjadi simbol kemajuan industri, tetapi juga diharapkan memberi dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat dan pembangunan ekonomi berkelanjutan di kawasan Luwu dan sekitarnya.
