![]() |
| Ilustrasi, Film Pesta Babi Viral: Sinopsis, Fakta Kontroversi hingga Nobar di Unram Dibubarkan. (foto:ferry/yt@indonesiabaru/mistar) |
Porostengah.id - Film dokumenter investigatif berjudul “Pesta Babi” karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale menjadi sorotan publik setelah mengangkat isu konflik tanah adat, deforestasi, dan dugaan pelanggaran hak asasi manusia di Papua Selatan.
Dokumenter yang dirilis pada 2026 itu menggambarkan perjuangan masyarakat adat mempertahankan tanah ulayat mereka dari ekspansi perkebunan tebu dan proyek agroindustri berskala besar yang masuk dalam program strategis nasional (PSN) Food Estate.
Dalam film tersebut, ditampilkan perubahan kawasan hutan menjadi lahan perkebunan yang dinilai mengancam sumber pangan tradisional masyarakat adat. Selain itu, film juga menyoroti situasi sosial di lapangan, termasuk dugaan militerisasi yang disebut terjadi di balik narasi ketahanan pangan dan transisi energi.
Warga adat Papua Selatan disebut melakukan berbagai bentuk penolakan terhadap proyek tersebut. Tercatat lebih dari 1.800 tanda perlawanan dipasang di sejumlah wilayah sebagai simbol penolakan terhadap pengambilalihan tanah adat.
Sejak diputar di berbagai daerah, “Pesta Babi” memicu gelombang diskusi publik dan kegiatan nonton bareng (nobar) di sejumlah kota. Namun, beberapa agenda pemutaran dilaporkan mengalami penolakan hingga pembubaran.
Dikutip dari media Mistar.id, yang berjudul "Film Pesta Babi Viral: Sinopsis, Fakta Kontroversi hingga Nobar di Unram Dibubarkan" pembubaran nobar dilakukan pihak rektorat Universitas Mataram melalui Wakil Rektor III, Sujita.
Menurut keterangannya, tindakan tersebut dilakukan atas instruksi Rektor Unram, Sukardi, demi menjaga situasi kampus tetap kondusif.
“Saya menolak demi menjaga kondusivitas dan supaya tidak ada ketersinggungan antara kita,” ujar Sujita.
Pernyataan tersebut kemudian memicu kritik dari sejumlah mahasiswa dan pegiat kebebasan berekspresi. Mereka menilai kampus seharusnya menjadi ruang terbuka bagi diskusi ilmiah, pertukaran gagasan, serta kebebasan menyampaikan pandangan secara akademik.
Film dokumenter ini diproduksi melalui kolaborasi Watchdoc, Greenpeace Indonesia, Jubi Media, Pusaka Bentala Rakyat, dan Ekspedisi Indonesia Baru.
Melalui dokumenter tersebut, para pembuat film berupaya menghadirkan gambaran mengenai persoalan ruang hidup masyarakat adat Papua di tengah masifnya pembangunan industri dan proyek berskala nasional.
Untuk Daftar Nobarnya silahkan daftar pada link berikut;
